Jumat, 23 Januari 2026

katanya...ingin fokus ke diri sendiri

Sekali lagi aku mencoba menelaah apa yang ada dibalik hati... Rupanya ada satu kata dan rasa. 

Tertuju pada sosoknya, 
Padahal...

aku pastilah tau akhirnya...
 Aku akan kecewa... 
Aku akan kembali meratapi nasib sendirian.
Meneteskan air mata yang harus aku usap dalam persembunyian. 

Jangan diambil perasaan, 
jangan diambil beban. Kata mereka. 

Namun bagaimana bila aku sudah setinggi ini menggantungkan rasa? 
Bila akhirnya...
 Adalah kecewa, maka... 
Baiklah.. 

Akan kusematkan semua pada hidup yang aku jalani... 

Bagaimana ia bisa berkata, ingin menjalani semua sendiri. 

Bagaimana bisa aku jalani ini setelah cinta...  
Sedalam jurang gelap menyeretku ke dalam gila? 
Ternyata memang bukan ranahku untuk ku selami makan cinta.? 

Aku sudah merasakan patah... 
Dan patah... 
Lalu patah... 
Setiap hela nafas ku ...
yang kusangka tertuju untuk temanimu... 
Denganmu... 

Kini aku harus mematahkan hatiku tiap hari, melihatnya jalani semua dan biasa saja... 

Namun beda untukku...
agar aku tak mati. ... 
Aku harus memeras kesakitan ditanah batinku. 

Karena bila aku berhenti kesakitan, mungkin hidupku sudah dalam gelap kehampaan. 

Minggu, 08 September 2024

hela nafas

Aku meminta kesempatan
Entah ia iyakan atau tidak
Setelahnya aku terbawa
Oleh jawaban memutar
Oleh kalimat membuatmu

Aku tau kau tak ingin menyakiti
Sebilah pisaumu kau buang
Dan memilih kata yang mudah
Dan tidak setajam keputusan

Aku membisu dalam ambigu
Menoleh ke arah kekosongan
Dan mengarang kisah
Tentang kamu aku

Itu saja, 
Dalam hela nafas saat ini, 
Aku cuma bisa menahannya



Sabtu, 24 Agustus 2024

bayar dengan senyum

Aku tau akan segera dilupakan
Aku sadar akan pujian 
Yang aku utarakan tentang senyummu
Hanyalah satu dari sejuta pujian kau dengar

Tapi pernahkah ada yang mengguncang
Sehebat senyum itu

Hingga mampu aku tulis sebuah buku
Yang tercipta hanya karena itu

Aku merdeka untuk mencintaimu
Didalam pikiranku
Aku bebas dari segala bentuk syarat
Dan bebas ber ekspresi dalam imaji

Dan selamanya memanggil rasa ini
Lalu jatuh cinta lagi
Lalu mencintai lagi

Ingin aku serahkan semuanya
Demi setiap hari
Bisa mendapati
Senyum di balik dua pembatas

Aku mencintainya
Itu saja

... 

Hai, aku sekarang sudah 27 tahun, dulu di tahun 2019  aku bertemu seseorang, dan harusnya puisi ini aku tulis saat itu >_<

Minggu, 12 Juni 2022

JARI GURAUKU

 YANG TERBANG

BUKAN MERPATI PUTIH HINGGAP DI POHON CEMARA

TAPI JANJIMU YANG HINGGAP DI RUANG HAMPA

YANG MENGULITIKU

DI JALAN BELUKAR YANG ARAHNYA SERAMPANGAN


AKU MENJAMU HANTU MALAM

DENGAN SEGELAS RASA TAKUT

SECUIL RESAH, KANAPA AKU MASIH HIDUP

DAN PELAN IA TEGUK HINGGA KOSONG


REMAS REMAS TANAH MERAH

DI ATASNYA TUNTAS  KU GELAR 

SELEMBAR LUSUH MELEPAH

BERSILA SAMBIL MENGHIRUP UDARA PARA HANTU


KASIHILAH RINDU YANG DATANG BERSAMAKU

DITANAH MERAH DIREMAH REMAH

Rabu, 31 Maret 2021

kabarku 31 maret 2021

 di sebuah coffee shop lantai 2 , aku menulis ini

baru saja kucing yang aku pelihara dan ku beri cinta ditabrak motor di depan rumahku, dan seperti biasa aku masih menangis dan merasa kehilangan.

cinta yang biasa ku beri sembari memeluknya sepulang kerja

kini aku bingung harus aku kemanakan

dulu aku kira semakin banyak aku simpan akan semakin banyak aku punya

tapi tidak dengan cinta , aku punya mereka yang aku cintai dan memberi mereka cintaku

ketika mereka menghilang , bukan berarti aku punya lebih banyak cinta dengan menyimpannya.

yang ada, aku terluka.

cinta yang biasa aku beri kepada mereka bukannya berkurang

cinta yang didalamku juga terluka ketika mereka tiba - tiba menghilang

bukankah sejak dulu matematika dunia berbeda , dengan perhitungan yang ada didalam jiwa .

apalagi rasa cinta,..

selamat tinggal peliharaanku, seekor kucing buta yang sempat aku cintai.

sepergimu , cintanya tak pergi , dan aku masih mencintai.